Kisah Dan Cerita Lucu Abu Nawas Membalas Perbuatan Raja

http://ceritalucu-abunawas.blogspot.com/


Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas titah langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah.
Kata mereka tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya.
Tetapi setelah mereka terus menggali ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan.
Dan Baginda juga tidak meminta maaf kepada Abu Nawas, apa lagi mengganti kerugian.

Inilah yang membuat Abu Nawas memendam dendam.
Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihat untuk membalas Baginda.
Makanan yang dihidangkan oleh istrinya tidak dimakan karena nafsu makannya lenyap.

Malam pun tiba, namun Abu Nawas tetap tidak beranjak.
Keesokan hari Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi.
la tiba-tiba tertawa riang. "Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi." Abu Nawas berkata kepada istrinya.
"Untuk apa?" tanya istrinya heran.
"Membalas Baginda Raja." kata Abu Nawas singkat.

Dengan muka berseri-seri Abu Nawas berangkat menuju istana.
Setiba di istana Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata, "Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang.
Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dari hamba dan berani memakan makanan hamba."

"Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?" sergap Baginda kasar.

"Lalat-lalat ini, Tuanku." kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya.
"Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini."

"Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?"

Abu nawas berkata : "Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu."

Baginda Raja tidak bisa mengelakkan diri menolak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu para menteri sedang berkumpul di istana.
Maka dengan terpaksa Baginda membuat surat ijin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di manapun mereka hinggap.

Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana sini.
Dengan tongkat besi yang sudah sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu.

Ada yang hinggap di kaca. Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas.

Bahkan Abu Nawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.
Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganya.
Dan setelah merasa puas, Abu Nawas mohon diri.
Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu.

Kini ia sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena kepada Abu Nawas.
Abu Nawas yang nampak lucu dan sering menyenangkan orang itu ternyata bisa berubah menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang yang mengusiknya.
Abu Nawas pulang dengan perasaan lega.
Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.
Selanjutnya di... CERITA LUCU 

Kisah Dan Cerita Lucu Abu Nawas Petinju Kelas Berat


http://ceritalucu-abunawas.blogspot.com/

Suatu hari di baghdad banyak di pasang reklame pendaftaran pergulatan tinju kelas berat dan di buka untuk umum. Abu nawas ketika berjalan-jalan tak sengaja melihat reklame tersebut dan melihat dengan seksama iming-iming hadiah emas seberat satu klio gram bagi pemenangnya.

Abu nawas tertarik dengan hadiahnya maka segera ia langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti perhelatan tinju kelas berat tersebut. Panitia pada heran pada si abu nawas yang berbadan kecil kurus tinggi, kok berani-beraninya mengikuti perhelatan tinju kelas berat, apa dia gak takut mati ?

Singkat cerita tibalah saatnya perhelatan tinju kelas berat di laksanakan, pertandingan demi pertandingan telah selesai di laksanakan, tibalah giliran abu nawas dengan lawan petinju kelas yang paling berat. Di panggillah nama petinju yang akan melawan abu nawas tersebut. Namun ketika nama Abu nawas di panggil berkali-kali ternyata si Abu nawas tak menampakkan batang hidungnya.

Maka pertandingan abu nawas dengan petinju yang kelasnya paling beratpu di tunda. Petinju tadi geram dan langsung menanyakan almat Abu nawas. Maka kesokan harinya ia segera menuju rumah Abu nawas sesuai dengan petunjuk. Betapa terkejutnya petinju tadi ketika mendapati rumah abu nawas yang kosong, namun di depan rumahnya terpasang beberapa jumlah celana pendek untuk tinju dengan ukuran yang sangat besar.

Kontan saja sang petinju tadi nyalinya langsung don. Ia berkata dalam hati ” matilah aku…..lawanku ternyata orangnya berukuran jumbo…kalau aku kena pukulannya sekali saja…wah mati aku…” . Maka saat itu juga ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jadwal pertandingan. Maka abunawaslah yang berhak memperoleh hadiah emas sati kilogram..he..he..he ada ada saja.
Selanjutnya di... CERITA LUCU 

Kisah Dan Cerita Lucu Abu Nawas Menjadi Imam Masjid


http://ceritalucu-abunawas.blogspot.com/

Saat itu hari Jumat telah tiba, tiba saatnya Abu Nawas menjadi imam dan khotib masjid  berikut ceritanya :

Setelah pamit dengan istri tercintanya, Abu Nawas lalu pergi menuju menuju masjid. Beberapa saat kemudian terdengar suara adzan. Umat Islam para pria  beramai-ramai berkumpul di masjid dan berhenti sementara dari segala aktifitas. Warga senang karena yang menjadi imam adalah idola mereka Abu Nawas.

Beberapa saat sebelum Abu Nawas berkhutbah, dilihatnya banyak orang yang mengantuk dan tertidur lalu Abu Nawas memiliki ide cemerlang untuk mengatasi ini. Lalu beliau berteriak “Api… Api… Api…” kejut Abu Nawas dengan keras.

Tentu saja para jamaah terbangun dengan kagetnya dan menoleh kesana kemari mencari tahu dari mana asal apinya, ”Dimana apinya, dimana,” teriak jamaah.
Abu Nawas yang melihat para jamaah terbangun dan panik, lantas Abu Nawas meneruskan khutbahnya tanpa peduli pertanyaan para jamaah mengenai letak apinya.
“Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah,” kata Abu Nawas dalam khutbahnya.

Simak yang lainnya di Cerita Lucu

Kisah Dan Cerita Lucu Abu Nawas Dan Kambing


http://ceritalucu-abunawas.blogspot.com/

Di negeri Persia hiduplah seorang lelaki yang bernama Abdul Hamid Al-Kharizmi, lelaki ini adalah seorang saudagar yang kaya raya di daerahnya, tetapi sayang usia perkawinannya yang sudah mencapai lima tahun tidak juga dikaruniai seorang anak. Pada suatu hari, setelah shalat Ashar di Mesjid ia bernazar, “ya Allah swt. jika engkau mengaruniai aku seorang anak maka akan kusembelih seekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia”. Setelah ia pulang dari mesjid, istrinya yang bernama Nazariah berteriak dari jendela rumahnya:
Nazariah : “hai, hoi, cuit-cuit, suamiku tercinta, aku sayang kepadamu, ayo kemari, cepat aku ggak sabaran lagi, kepingen ni, cepat, aku kepengen ngomong”
Abdul heran dengan sikap istrinya seperti itu, dan langsung cepat-cepat dia masuk kerumah dengan penasaran sebesar gunung.
Abdul : h, h, h, h, h, h, nafasnya kecapaian berlari dari jalan menuju kerumahnya “ada apa istriku yang
cantik?”
Nazariah : “aku hamil kang mas”
Abdul : “kamu hamil?, cihui, hui, “
Sambil meloncat-loncat kegirangan di atas tempat tidur, Plok, dia terperosok ke dalam tempat tidurnya yang terbuat dari papan itu.
Tidak lama setelah kejadian itu istrinya melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat cantik dan lucu. Dan diberi nama Sukawati
Pak lurah : “Anak anda kan laki-laki, kenapa diberi nama Sukawati?”
Abdul : “dikarenakan anak saya laki-lakilah makanya saya beri nama Sukawati, jika saya beri nama
Sukawan dia disangka homo.
Abdul : “Hai Malik (ajudannya) cepat kamu cari kambing yang mempunyai tanduk sebesar jengkal manusia”.
Malik : “tanduk sebesar jengkal manusia?” ia heran “mau cari dimana tuan?”
Abdul : “cari di dalam hidungmu dongol, ya cari diseluruh ke seluruh negeri ini”
Beberapa hari kemudian.
Malik : “Tuan Abdul, saya sudah cari kemana-mana tetapi saya tidak menemukan kambing yang punya
tanduk sejengkal manusia”
Abdul : “Bagaimana kalau kita membuat sayembara, cepat buat pengumuman ke seluruh negeri bahwa kita
membutuhkan seekor kambing yang memiliki tanduk sejengkal manusia untuk disembelih”
Menuruti perintah tuannya, Malik segera menempelkan pengumunan di seluruh negeri itu, dan orang-orang yang memiliki kambing yang bertandukpun datang kerumah Abdul, seperti pengawas Pemilu, Abdul memeriksa tanduk kambing yang dibawa tersebut.
Abdul : “hai tuan anda jangan menipu saya, kambing ini tidak memiliki tanduk sebesar jengkal manusia”
kemudian ia pergi ke kambing lain “jangan main-main tuan, ini tanduk kambing palsu”.
Setelah sekian lama menyeleksi tanduk kambing yang dibawa oleh kontestan sayembara, ternyata tidak satupun yang sesuai dengan nazarnya kepada Allah swt. Abdul hampir putus asa, tiba-tiba.
Abdul : “aha, saya teh ada ide, segera kamu ke ibu kota dan jumpai pak Abu dan katakan saya ingin
meminta tolong masalah saya.
Malik segera menuruti perintah tuannya, dan segera menuju ibu kota dan menjumpai Pak Abu yang punya nama lengkap Abu Nawas.
Malik : “Pak Abu, begini ceritanya, cus, cues, ces. Pak Abu bisa bantu tuan saya”
Pak Abu : “katakan pada tuan kamu, bawa kambing yang punya tanduk dan bayinya tersebut besok pagi ke mesjid Fathun Qarib.
Malik segera pulang dan memberitahukan kepada tuannya bahwa Pak Abu bisa membantu dan cus, cues, ces, sstsst,
Di esok pagi Abdul menjumpai Pak Abu dengan seekor kambing yang punya tanduk dan anaknya yang masih bayi tersebut, beserta istrinya.
Pak Abu : “Baiklah tuan Abdul, jika nazarmua kepada Allah swt. menyembelih kambing yang punya tanduk
sebesar jengkal manusia, sekarang tunjukkan mana kambing yang kau bawa kemari, dan mana anakmu”
Abdul : “ini kambing dan anak saya Pak Abu”
Pak Abu kemudian mengukur tanduk kembing tersebut dengan jengkal anak bayi tersebut dan Pak abu memperlihatkannya ke Abdul
Pak Abu : “sekarang kamu sudah bisa membayar nazarmu kepada Allah swt. karena sudah dapat kambing yang pas”
Abdul : “cihui, uhui, pak Abu memang hebat”, dia meloncat-loncat kegirangan di dalam mesjid setelah melakukan sujud syukur, dan tiba-tiba sleit, dia terpeleset jatuh, karena lantainya baru saja di pel oleh pengurus mesjid itu. Selanjutnya di... CERITA LUCU

Kisah Dan Cerita Lucu Abu Nawas Taruhan Yang Berbahaya

http://ceritalucu-abunawas.blogspot.com/


Pada suatu sore ketika abu nawas ke warung teh kawan-kawannya sudah berada di situ. Mereka memang sengaja sedang menunggu abu nawas.
“Nah ini abu nawas datang.” kata salah seorang dari mereka.
“Ada apa?” kata abu nawas sambil memesan secangkir teh hangat.
“Kami tahu engkau selalu bisa melepaskan diri dari perangkap-perangkap yang dirancang Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tetapi kami yakin kali ini engkau pasti dihukum Baginda Raja bila engkau berani melakukannya.” kawan-kawan abu nawas membuka percakapan.
“Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakuti kecuali kepada Allah Swt.” kata abu nawas menentang.
“Selama ini belum pernah ada seorang pun di negeri ini yang berani memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukankah begitu hai abu nawas?” tanya kawan abu nawas.
“Tentu saja tidak ada yang berani melakukan hal itu karena itu adalah pelecehan yang amat berat hukumannya pasti dipancung.” kata abu nawas memberitahu.
“Itulah yang ingin kami ketahui darimu. Beranikah engkau melakukannya?”
“Sudah kukatakan bahwa aku hanya takut kepada Allah Swt. saja. Sekarang apa taruhannya bila aku bersedia melakukannya?” abu nawas ganti bertanya.
“Seratus keping uang emas. Disamping itu Baginda harus tertawa tatkala engkau pantati.” kata mereka. abu nawas pulang setelah menyanggupi tawaran yang amat berbahaya itu.
Kawan-kawan abu nawas tidak yakin abu nawas sanggup membuat Baginda Raja tertawa apalagi ketika dipantati. Kayaknya kali ini abu nawas harus berhadapan dengan algojo pemenggal kepala.
Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan mengadakan jamuan kenegaraan. Para menteri, pegawai istana dan orang-orang dekat Baginda diundang, termasuk abu nawas. abu nawas merasa hari-hari berlalu dengan cepat karena ia harus menciptakan jalan keluar yang paling aman bagi keselamatan lehernya dari pedang algojo. Tetapi bagi kawan-kawan Abu Nawas hari-hari terasa amat panjang. Karena mereka tak sabar menunggu pertaruhan yang amat mendebarkan itu.
Persiapan-persiapan di halaman istana sudah dimulai. Baginda Raja menginginkan perjamuan nanti meriah karena Baginda juga mengundang rajaraja dari negeri sahabat.
Ketika hari yang dijanjikan tiba, semua tamu sudah datang kecuali Abu Nawas. Kawan-kawan abu nawas yang menyaksikan dari jauh merasa kecewa karena abu nawas tidak hadir. Namun temyata mereka keliru. abu nawas bukannya tidak datang tetapi terlambat sehingga abu nawas duduk di tempat yang paling
belakang.
Ceramah-ceramah yang mengesankan mulai disampaikan oleh para ahli pidato. Dan tibalah giliran Baginda Raja Harun Al Rasyid menyampaikan pidatonya. Seusai menyampaikan pidato Baginda melihat abu nawas duduk sendirian di tempat yang tidak ada karpetnya. Karena merasa heran Baginda bertanya, “Mengapa engkau tidak duduk di atas karpet?”
“Paduka yang mulia, hamba haturkan terima kaslh atas perhatian Baginda. Hamba sudah merasa cukup bahagia duduk di sini.” kata Abu Nawas.
“Wahai abu nawas, majulah dan duduklah di atas karpet nanti pakaianmu kotor karena duduk di atas tanah.” Baginda Raja menyarankan.
“Ampun Tuanku yang mulia, sebenarnya hamba ini sudah duduk di atas karpet.”
Baginda bingung mendengar pengakuan abu nawas. Karena Baginda melihat sendiri abu nawas duduk di atas lantai. “Karpet yang mana yang engkau maksudkan wahai abu nawas?” tanya Baginda masih bingung.
“Karpet hamba sendiri Tuanku yang mulia. Sekarang hamba selalu membawa karpet ke manapun hamba pergi.” Kata abu nawas seolah-olah menyimpan misteri.
“Tetapi sejak tadi aku belum melihat karpet yang engkau bawa.” kata Baginda Raja bertambah bingung.
“Baiklah Baginda yang mulia, kalau memang ingin tahu maka dengan senang hati hamba akan menunjukkan kepada Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas sambil beringsut-ringsut ke depan. Setelah cukup dekat dengan Baginda, abu nawas berdiri kemudian menungging menunjukkan potongan karpet yang ditempelkan di bagian pantatnya. abu nawas kini seolah-olah memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Melihat ada sepotong karpet menempel di pantat abu nawas, Baginda Raja tak bisa membendung tawa sehingga beliau terpingkal-pingkal diikuti oleh para undangan.
Menyaksikan kejadian yang menggelikan itu kawan-kawan abu nawas merasa kagum.
Mereka harus rela melepas seratus keping uang emas untuk abu nawas.

Kisah Dan Cerita Lucu Abu Nawas Berak Di Tempat Tidur

http://ceritalucu-abunawas.blogspot.com/


Suatu hari Abu Nawas kedatangan tiga orang tamu utusan baginda Raja Harun Ar Rasyid.
“Kami diutus oleh baginda Raja untuk berak di tempat tidurmu. Karena ini perintah Raja kamu tidak boleh menolak,” kata salah seorang mereka.
“Saya sama sekali tidak keberatan. Silahkan saja kalau kalian mampu melaksanakan perintah Raja,” jawab Abu Nawas enteng.
“Betul?” tanya utusan Raja.
“Iya, silahkan saja!” sahut Abu Nawas.
Abu Nawas mengawasi orang – orang itu beranjak ke tempat tidurnya dengan geram. Berak di tempat tidur? Betul – betul kurang ajar, kelewat batas!
Pada saat mereka hendak bersiap – siap berak, mendadak Abu Nawas berkata,
“Hai, maaf. Ada yang lupa saya sampaikan kepada kalian.”
“Apa itu?”
“Saya ingatkan supaya kalian jangan melebihi perintah baginda Raja. Jika kalian melanggar, saya pukul tengkuk kalian dengan pentungan, setelah itu baru saya laporkan kepada Baginda bahwa kalian melanggar perintahnya.” Jawab Abu Nawas dengan serius. Bahkan kini Abu Nawas sudah mengambil pentungan kayu besar.
“He, apa maksudmu Abu Nawas?”
“Ingat!” kata Abu Nawas tegas.”Perintah Baginda hanya berak di tempat tidur saja.”
“Itu betul!”
“Hanya berak tok! Jadi kalian tidak boleh kencing! Tidak boleh lepas celana! Tidak boleh cebok! Hanya berak saja!” kata Abu Nawas lagi.
“Wah! Itu tidak mungkin! Kami pasti kencing juga!”
“Aku pukul tengkuk kalian sekeras – kerasnya!”
“Lho?”
“Iya sebab kalian melanggar perintah Baginda!”
Mereka saling pandang dengan cengar – cengir.
“Kalau begitu kami tak sanggup mengerjakan perintah Baginda.”
“Itu bukan urusan saya.” kata Abu Nawas.
“Abu Nawas!” tiba – tiba terdengar suara Jakfar dari luar pintu rumah. Abu Nawas segera keluar rumah untuk menemui orang kepercayaan Baginda Harun Al Rasyid. Diikuti tiga utusan Baginda yang hendak berak.
” Aku sudah mendengar perdebatan kalian. Baginda memang memerintahkan berak di tempat tidurmu. Jika tiga orang itu sanggup mereka masing – masing akan dapat hadiah seribu dirham. Jika gagal maka mereka boleh kau pukul sesuka hatimu.” kata Jakfar.
“Oh, begitu! Lalu hadiah dari Baginda untukku berupa apa?”
“Sekarang juga kau boleh menghadap Baginda untuk menerima tiga ribu dirham.”
“Haaa…..! Seru Abu Nawas dengan riang sembari mengambil pentungan. Lalu tiga orang utusan yang mau berak tadi dipentungi pantatnya.
“Buk…!Buk…!Buuuuk…!”
“Ampun Abu Nawas!”
“Mau berak di tempat tidurku hah?”
“Tidak! Ampuuuuuuun…!” tiga orang itu lari terbirit – birit. Jakfar dan Abu Nawas tertawa terpingkal – pingkal.
“Abu Nawas, Baginda yakin kau dapat mengatasi masalah ini. Beliau memang menginginkan kehadiranmu di istana untuk menghibur hatinya yang gundah.” Selanjutnya di... CERITA LUCU

Kisah Dan Cerita Lucu Abu Nawas Dan Monyet Ajaib

http://ceritalucu-abunawas.blogspot.com/



Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai. Ada kerumunan masa. Abu Nawas bertanya kepada seorang kawan yg kebetulan berjumpa di tengah jalan.
"Ada kerumunan apa di sana?" tanya Abu Nawas.

"Pertunjukkan keliling yg melibatkan monyet ajaib."

"Apa maksudmu dengn monyet ajaib?" kata Abu Nawas ingin tahu.

"Monyet yg dapat mengerti bahasa manusia, dan yg lebih menakjubkan adalah monyet itu hanya mau tunduk kepada pemiliknya saja." kata kawan Abu Nawas menambahkan.
Abu Nawas makin tertarik. Dia tak tahan tuk menyaksikan kecerdikan dan keajaiban binatang raksasa itu.

Kini Abu Nawas sudah berada di tengah kerumunan para penonton. Karna begitu banyak penonton yg menyaksikan pertunjukkan itu, sang pemilik monyet dengn bangga menawarkan hadiah yg cukup besar bagi siapa saja yg sanggup membuat monyet itu mengangguk-angguk.

Tak heran bila banyak diantara para penonton mencoba maju satu persatu. Mereka berupaya dengn beragam cara tuk membuat monyet itu mengangguk-angguk, tapi sia-sia. Monyet itu tetap menggeleng-gelengkan kepala.
Melihat kegigihan monyet itu Abu Nawas semakin penasaran. Hingga dia maju tuk mencoba. Setlah berhadapan dengn binatang itu Abu Nawas bertanya,
"Tahukah engkau siapa aku?" Monyet itu menggeleng.

"Apakah engkau tak takut kepadaku?" tanya Abu Nawas lagi. Namun monyet itu tetap menggeleng.
"Apakah engkau takut kepada tuanmu?" tanya Abu Nawas memancing. Monyet itu mulai ragu.
"Bila engkau tetap diam maka akan aku laporkan kepada tuanmu." lanjut Abu Nawas mulai mengancam. Akhirnya monyet itu terpaksa mengangguk-angguk.
Atas keberhasilan Abu Nawas membuat monyet itu mengangguk-angguk maka dia mendapat hadiah berupa uang yg banyak. Bukan main marah pemilik monyet itu hingga dia memukuli binatang yg malang itu. Pemilik monyet itu malu bukan kepalang. Hari berikutnya dia ingin menebus kekalahannya. Kali ini dia melatih monyetnya mengangguk-angguk.
Bahkan dia mengancam akan menghukum berat monyetnya bila sampai dapat dipancing penonton mengangguk-angguk terutama oleh Abu Nawas. Tak peduli apapun pertanyaan yg diajukan.

Saat-saat yg dinantikan tiba. Kini para penonton yg ingin mencoba, harus sanggup membuat monyet itu menggeleng-gelengkan kepala. Maka seperti hari sebelumnya, banyak para penonton tak sanggup memaksa monyet itu menggeleng-gelengkan kepala. Setlah tak ada lagi yg ingin mencobanya, Abu Nawas maju. Dia mengulang pertanyaan yg sama.

"Tahukah engkau siapa daku?" Monyet itu mengangguk.

"Apakah engkau tak takut kepadaku?" Monyet itu tetap mengangguk.

"Apakah engkau tak takut kepada tuanmu?" pancing Abu Nawas. Monyet itu tetap mengangguk karena binatang itu lebih takut terhadap ancaman tuannya daripada Abu Nawas.
Akhirnya Abu Nawas mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam panas.

"Tahukah engkau apa guna balsam ini?" Monyet itu tetap mengangguk .

"Baiklah, bolehkah kugosok selangkangmu dengn balsam?" Monyet itu mengangguk.
Lalu Abu Nawas menggosok selangkang binatang itu. Tentu aja monyet itu merasa agak kepanasan dan mulai panik.
Kemudian Abu Nawas mengeluarkan bungkusan yg cukup besar. Bungkusan itu juga berisi balsam.
"Maukah engkau bila balsam ini kuhabiskan tuk menggosok selangkangmu?" Abu Nawas mulai mengancam. Monyet itu mulai ketakutan. Dan rupanya dia lupa ancaman tuannya sehingga dia terpaksa menggeleng-gelengkan kepala sambil mundur beberapa langkah.

Abu Nawas dengn kecerdikan dan akalnya yg licin mampu memenangkan sayembara meruntuhkan kegigihan monyet yg dianggap cerdik.

Ah, jangankan seekor monyet, manusia paling pandai aja dapat dikecoh Abu Nawas!